Site Network: Home | Blogcrowds | Gecko and Fly | About

Asuransi dan Teknologi Tingkatkan Akses

Setiap tahun diperkirakan sekitar 27 juta penduduk di Asia Selatan dan Timur meninggal dunia. Selain disebabkan penyakit menular, kematian akibat penyakit kronik, seperti penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, diabetes, serta kanker, meningkat pesat.

Sebagian besar kematian itu terjadi akibat ketidakmampuan penduduk mengakses pelayanan kesehatan, baik karena tidak tersedia dalam jangkauan masyarakat maupun ketiadaan biaya.

Masalah itu dibahas dalam ASEAN Symposium on Access to Healthcare awal pekan lalu di Kuala Lumpur, Malaysia. Simposium selama dua hari hasil kerja sama Philips dan Business Week itu mengundang pembicara dari institusi pelayanan kesehatan, akademisi, bisnis, industri farmasi, dan media.

Akses terhadap pelayanan kesehatan merupakan hak asasi manusia yang mendasar, demikian Presiden dan CEO Royal Philips Electronics Gerard Kleisterlee. "Kita tidak bisa menerima jutaan orang meninggal tiap tahun karena akses terhadap pelayanan kesehatan terhambat. Kita harus meningkatkan upaya untuk menyediakan pelayanan kesehatan yang layak bagi semua orang di dunia," ujarnya.

Kleisterlee menekankan, akses bagi semua orang terhadap pelayanan kesehatan berkualitas bukan hanya tujuan etik, melainkan prasyarat bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan sosial. Oleh karena itu, semua pihak perlu bekerja sama untuk memungkinkan hal itu.

Akibat perubahan gaya hidup dan pola makan, penyakit kronik meningkat pesat. Di seluruh dunia, kecuali di Afrika, lebih banyak orang meninggal karena penyakit kronik (seperti penyakit kardiovaskular, kanker, dan diabetes) daripada penyakit menular (seperti malaria, tuberkulosis, atau HIV/AIDS).

Dunia juga menghadapi kekurangan tenaga kesehatan. Tidak cukup banyak dokter dan perawat untuk menangani peningkatan kebutuhan terhadap pelayanan kesehatan. Di sisi lain, akibat tingginya frekuensi perjalanan internasional dan perdagangan, kita dihadapkan pada ancaman pandemi, seperti SARS maupun flu burung.

Tidak terjangkau

Bagi penduduk negara berkembang, pelayanan kesehatan sering kali tidak terjangkau. Infrastruktur kesehatan, seperti dokter, klinik, atau rumah sakit, terlalu jauh atau sulit dijangkau akibat kondisi geografi di pedesaan. Sementara di perkotaan terdapat fasilitas pelayanan kesehatan yang lengkap, tetapi tidak semua penduduk mampu mengakses karena tidak cukup uang dan tidak terlindungi asuransi.

Membuat pelayanan kesehatan terjangkau bagi pasien di daerah terpencil merupakan tugas penting. Tidak bisa diterima jika ada ribuan orang meninggal tiap minggu akibat penyakit yang dapat dengan mudah didiagnosis dan diobati.

Bagi penduduk pedesaan atau daerah terpencil memang tidak bisa dibuat sistem pelayanan kesehatan yang superlengkap seperti di kota. Namun, pelayanan kesehatan bisa ditingkatkan lewat manajemen pasien daerah terpencil.

Sebagai gambaran, demikian Kleisterlee, awal tahun ini Philips memperkenalkan Easy Web Healthcare System di Filipina. Sistem berbasis internet ini memungkinkan diagnosis pasien penyakit jantung di daerah terpencil secara online oleh dokter ahli yang berada di Philippine Heart Centre Manila. Fasilitas itu memungkinkan ribuan pasien gangguan jantung di pelbagai provinsi di Filipina yang berada jauh dari rumah sakit rujukan didiagnosis dan ditangani lebih baik sehingga kualitas hidupnya meningkat.

Di India, Philips membuat proyek percontohan teleklinik berjalan, berupa mobil van yang dilengkapi peralatan diagnostik dan dihubungkan lewat satelit ke rumah sakit terdekat. Van ini dijalankan oleh seorang perawat terlatih yang memeriksa orang-orang yang sakit dan mengonsultasikan ke dokter ahli. Jika ada pasien yang memerlukan perawatan, baru dirujuk ke rumah sakit. Hal ini lebih efisien dibandingkan dengan pasien harus pergi ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya, padahal belum tentu harus dirawat inap.

Di perkotaan, sistem berbasis internet ini bisa digunakan untuk memantau kondisi pasien setelah rawat inap. Sistem ini juga bisa dimanfaatkan untuk pelatihan dan pendidikan berkelanjutan jarak jauh bagi tenaga kesehatan.

Masalahnya, bisakah kita meningkatkan pasokan listrik dan ketersediaan bandwith untuk akses internet sehingga memungkinkan pelayanan kesehatan bagi pasien di daerah terpencil? Dapatkah kita melatih tenaga kesehatan dalam jumlah cukup untuk memanfaatkan secara maksimal infrastruktur ini? Dapatkah kita membangun teknologi yang tepat dengan harga terjangkau? Dapatkah kita menemukan model usaha dan desain sistem pelayanan kesehatan yang tepat bagi manajemen pasien daerah terpencil?

Hal itu pada akhirnya sangat bergantung pada komitmen para pihak yang terlibat dalam pelayanan kesehatan serta kemampuan berpikir untuk membuat terobosan.

Tanggung jawab pemerintah

Pelayanan kesehatan merupakan sektor di mana pemerintah memiliki tanggung jawab besar. Karena itu, kebijakan pemerintah menjadi sangat penting.

Seberapa besar pemerintah berkomitmen mengalokasikan anggaran bagi pembangunan kesehatan, upaya pemerintah mengatasi kekurangan tenaga dokter dan perawat, kiprah pemerintah dalam mengampanyekan gaya hidup dan pola makan yang sehat menjadi penting. Misalnya, dalam hal rokok yang berkontribusi meningkatkan tuberkulosis, kanker paru, dan penyakit kardiovaskular, pemerintah perlu aktif mengurangi konsumsi rokok, baik lewat pajak, kampanye publik, ataupun pembatasan merokok di tempat umum.

Pencegahan merupakan hal penting di samping pelayanan kesehatan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 1,2 miliar penduduk dunia tidak memiliki akses terhadap air bersih untuk minum. Akibatnya, jutaan orang meninggal karena diare serta penyakit terkait air lainnya. Oleh karena itu, penyediaan air bersih harus menjadi prioritas.

Menyoroti institusi pelayanan kesehatan, President of Primary Care Doctors Organization Malaysia Molly Cheah menyatakan, praktik pelayanan kesehatan tingkat pertama yang seharusnya dilakukan dokter umum kini juga dilakukan oleh dokter spesialis. Hal ini menyebabkan naiknya biaya kesehatan. Pemeriksaan laboratorium atau fisik dengan peralatan canggih kini sering dilakukan, padahal tidak selalu diperlukan.

"Dulu sebelum melakukan pemeriksaan kami selalu mempertimbangkan apakah hal itu betul-betul akan membantu dokter membuat diagnosis akurat, apakah hasilnya akan membuat kondisi pasien lebih baik. Namun, sekarang dokter cenderung memerintahkan pelbagai pemeriksaan tanpa menimbang manfaatnya. Hal ini tentu menambah biaya yang harus dibayar pasien," tutur Cheah.

Dalam hal ini Direktur Valued Partners Malaysia Michael Chow berpendapat, banyak pihak yang berperan untuk mengawasi pelayanan kesehatan. Yang utama tentu pemerintah, kemudian perusahaan asuransi maupun perusahaan tempat pasien bekerja, dan terakhir adalah pasien. Jika ada hal-hal menyimpang tentu ada pihak yang bertindak untuk mencegah hal itu berlanjut.

Menurut Wakil Presiden dan Manajer Umum Philips Medical Systems Asia Pasifik Wayne Spittle, pelayanan kesehatan tidak sekadar industri. Semua upaya pada akhirnya ditujukan untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan yang terjangkau dan bermutu bagi seluruh penduduk dunia.

Wilayah ASEAN sedang mengalami transisi demografi dan epidemiologi. Peningkatan jumlah usia lanjut bersama dengan peningkatan angka kejadian penyakit kronik berdampak besar di bidang kesehatan, sosial, dan ekonomi. Tingginya angka kejadian penyakit menular, jumlah penduduk di pedesaan, rendahnya belanja kesehatan dan melek huruf merupakan tantangan besar dalam meningkatkan akses terhadap pelayanan kesehatan di ASEAN.

Upaya yang perlu dilakukan adalah meningkatkan infrastruktur, termasuk menggunakan teknologi, mengembangkan keterampilan teknis tenaga kesehatan, memperbaiki sistem informasi, mempertahankan tenaga kesehatan agar tidak pergi ke luar negeri, meningkatkan kesadaran penduduk untuk mengubah gaya hidup dan pola makan menjadi lebih sehat, dan mengembangkan solusi pembiayaan pelayanan kesehatan atau sistem asuransi kesehatan yang melindungi seluruh penduduk.

0 Comments:

Post a Comment